Minggu, 11 November 2012
Fenomena Hujan dalam AlQuran
Apakah kamu
tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka
diatur-Nya menjadi sumber-sumber di bumi kemudian ditumbuhkannya-Nya dengan air
itu tanaman-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu
Kami melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur
berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
pelajaran bagi orang-orang yang berakal.
(QS.Az-Zumar,39:21). Hujan merupakan anugerah
yang diberikan Allah SWT bagi semua makhluk di alam semesta. Tetesan air yang
turun dari langit menjadi sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup. Berkat
kekuasaan Sang Khalik, setiap saat miliaran liter air berpindah dari lautan
menuju atmosfer lalu kembali lagi menuju daratan. Kehidupan pun bergantung pada
daur air ini.
Alquran
dalam surat Az-Zukhruf ayat 11 mendefinisikan hujan sebagai air yang dikirimkan
''menurut kadar.'' Dalam ayat itu Allah berfirman, ''Dan Yang menurunkan air langit menurut kadar (yang diperluka).''
Matahari dan Bulan Mengelilingi Bumi Menurut Al-Qur'an
"Apakah
Al-Qur'an mengajarkan bahwa tata surya itu geosentris ?" wajar di
pertanyakan mengingat banyaknya ayat di dalam Al-Qur'an bahwa matahari, bulan,
dan bintang "beredar", tetapi sepertinya tidak ada satupun ayat yang
mengatakan dengan jelas bahwa bumi beredar. Jadi, apakah Al-Qur'an menyatakan
bahwa tata surya kita itu geosentris, dimana bumi menjadi pusatnya dan
matahari, bulan, dan benda langit lainnya mengelilingi bumi? Sementara ilmu
pengetahuan saat ini menyatakan bahwa bumi mengelilingi matahari, dan matahari
pun beredar bersama-sama galaksi. Manakah yang harus lebih kita percayai, wahyu
ataukah ilmu?
Terlebih
lagi Al-Quran diturunkan pada masa dimana mayoritas penduduk dunia menganggap
bahwa bumi itu tetap, diam, tak bergerak dan matahari serta bulan beredar
mengelilingi bumi ke atas dan ke bawah bumi,karena seperti itulah yang terlihat
dan dirasakan oleh orang-orang di bumi. Pernyataan bahwa bumi bergerak
mengelilingi matahari pada saat diturunkannya Al-Qur’an, tentu saja akan
menimbulkan bahan olok-olokan terhadap Islam, dan bahkan kecaman dari beberapa
kalangan ahli kitab.
"Bumi bergerak? Apakah kau merasa bumi ini bergerak? Ide yang bodoh. Jelas-jelas kita melihat matahari terbit di timur, bergerak ke atas dan tenggelam di barat, setelah itu bulan muncul seperti halnya matahari", mungkin seperti itulah tanggapan orang-orang terdahulu tentang ide heliosentris ataupun ide bahwa bumi, bulan, bintang, dan bahkan matahari bergerak di orbitnya masing-masing dan bahwa bumi mengelilingi matahari.
Langganan:
Postingan (Atom)
